Thursday, October 22, 2009

Mimpi Tentang Bapak Bangsa


Melayang sergap, dia berjalan tegap
Di tengah kepulan asap, imajiku menguap

Berdirilah dia bercakap lantang
Elok, seolah menantang
Tampil demi tepis gigil
Terampil walau kecil

Harapku pandang Bapak
Dengar ia ucap 'Tidak!'
Seribu Duaribukalipun...
Asal menir minta ampun

Tabirpun menanggap, sosok besar terlihat
Diam, manut, tidak kuat
Gagah tapi lemah
Inikah kini sosok sang pemurah?

Imaji hanya fantasi
Tabirlah realisasi
Mimpiku hanyalah bayang langu
Dari masa lalu



Sunday, October 4, 2009

5 Tokoh Perang Dunia II yang Membuat Rambo jadi Terlihat Culun!!

Oke, ini sebenernya bukan ide yang orisinil. Ide untuk ngebikin ini timbul setelah gw baca di situs cracked.com yang beropini mengenai 5 jagoan yang bikin Rambo terlihat seperti banci.. 
Tapi ga apa-apa lah...sekali-sekali gw menebar unsur plagiarisme di blog gw. Lagian juga ini gw adopsi doang kok. Yang gw ambil itu 5 tokoh dari Perang Dunia II doang, yang merupakan event histori favorit gw. Datanya juga cuman dikit yang gw embat dari situs itu. Ga masalah kaan? (hehehehe, nyari pembelaan).

Ga pake banyak cingcong, mari lihat 5 tokoh pilihan gw (nomer ga urut, karena gw bingung untuk nentuin yang paling MACHO! haha)


1. John Basilone : Tiga Hari tanpa Makan dan Tidur Menghadapi 3.000 Orang


 

John Basilone mendaftarkan diri sebagai U.S Marine Corps pada tahun 1940. Segera setelah itu, ia diterjunkan ke medan perang pasifik, melawan Jepang. Salah satu medan perang yang paling mengerikan bagi sekutu di sana adalah di Guadalcanal, Kep.Salomon. Basilone turut berperang dan mendapatkan nama harum di sana, pada tahun 1942

Tersebutlah, bahwa ia bersama kompinya diharuskan untuk menahan serangan Jepang di satu pos di medan Guadalcanal. (Catetan gw : satu kompi dalam kondisi lengkap dan 'sehat' biasanya diisi sekitar 100-150 an orang, dan dipimpin oleh perwira yang paling tidak berpangkat Letnan sampai Kapten. Basilone sendiri berpangkat Sersan, sehingga dia merupakan orang di rantai komando selanjutnya apabila sang pemimpin kompi terbunuh. Itulah yang kemudian terjadi.)

Seiring dengan terbunuhnya si komandan kompi, Basilone bertanggung jawab atas pos yang dihuninya. Ganasnya serbuan Jepang dan tidak datangnya pasukan bantuan, mengakibatkan Basilone hanya tinggal memiliki 15 orang untuk bertempur melawan 3.000 pasukan Jepang di hari pertama. Hingga hari ketiga, ia kehilangan 12 orang lainnya, dan hanya bertahan dengan 2 orang bawahannya. Dalam sejarah disebutkan bahwa selama 3 hari ia berperang tanpa makan, minum, tidur, maupun istirahat. Ia menggunakan semua senjatanya untuk berjuang mempertahankan posnya dari serbuan Jepang. Mulai dari machine gun hingga pistolnya. Pada akhir hari ketiga, ia berhasil menahan serbuan 3.000 orang itu (ga ada sumber yang jelas, pasukan Jepang itu mati semua atau ditarik mundur. Yang jelas dia menang melawan ribuan orang itu!!).

Kebayang kan, kalo Rambo emang ga ada apa-apanya dibanding Sersan gendeng ini?
Pada akhirnya Basilone ditarik kembali ke Amerika untuk mendapatkan perawatan dan medali. Bukan main-main, yang ia dapat adalah medali tertinggi yang bisa didapat oleh semua prajurit perang, yaitu Medal of Honor.

Orang yang sudah mendapat medali ini biasanya tidak diperbolehkan untuk kembali ke medan perang. Alasannya sih ga dipublikasi, tapi dugaan gw...pada saat itu emang perlu banyak banget orang yang selamat dari medan perang untuk kembali ke tanah air dan menceritakan apa yang terjadi semuanya. Ia berperan baik sebagai pewarta berita, maupun tokoh yang bisa dijadiin panutan dan sumber inspirasi. Banyak banget kasus kaya gitu di medan Perang Dunia II.
Oke, singkat kata, Sersan Basilone ini juga pada awalnya tidak diperbolehkan untuk pergi berangkat lagi ke medan perang. Tapi Basilone memaksa, dan akhirnya ia dimasukkan ke pasukan yang akan bertempur merebut pulau Iwo Jima (ini pulau yang sangat mengerikan dalam sejarah militer Amerika. Alesannya mudah, pulau ini bener-bener makan banyak banget korban jiwa akibat kesadisan dan kegigihan tentara Jepang).

Mendarat di Pulau Iwo Jima, kompi Basilone dihancurkan oleh serangan dan tembakan pasukan Jepang dari garis pantai. Namun ia membalas dendam. Seorang diri berhasil menghancurkan satu rumah persembunyian Jepang yang memiliki tembakan otomatis MG-42 (tembakan yang menyapu kompinya di garis pantai itu). Sayangnya, beberapa menit kemudian ia tewas terkena serangan senjata artileri Jepang. Namanya kini digunakan untuk sebuah kapal induk Amerika, dan nama-nama di ruas jalan Amerika pula.



2. Vassili Zaitsev : Penembak Jitu Rusia yang Menghabisi Nyawa 500 Musuh

Bagi yang pernah nonton film berjudul Enemy at the Gates, tentu akrab dengan nama ini. Ya, film yang dibintangi Jude Law tersebut memang berkisah tentang dirinya, walaupun sebagian besar adalah fiksi. 
Zaitsev merupakan sniper atau penembak jitu Rusia yang lahir dan besar di pegunungan Ural. Sehari-harinya, Zaitsev kecil menghabiskan waktu dengan berburu Serigala menggunakan senapannya. Menjelang Perang Dunia II, ia mendaftarkan diri di angkatan laut Soviet, tapi kemudian dipindahkan ke resimen infanteri. 
Pada tahun 1942, ia ikut dalam peperangan membebaskan Stalingrad. Di sinilah jasa Zaitsev banyak dikenang. Pada medio November hingga Desember 1942, ia membunuh hingga 225 tentara musuh, semuanya hanya bersenjatakan senapan Mosin-Nagant!!

Sasaran utama dari tembakan jitunya adalah para perwira Jerman, sehingga diharapkan ia dapat menyebabakan kekacauan di dalam rantai komando dan struktur kemiliteran Jerman. Pada akhirnya, ia berhasil mencapai hal itu. Selepas perang di Stalingrad, ia masih meneruskan aksinya. Ditengarai ia mampu menghabisi nyawa 500 orang pasukan Jerman lainnya. Vassili sendiri bukan tidak pernah menjadi sasaran penembak jitu musuh yang geram terhadap aksinya. Pencarian besar-besaran pasukan Jerman terhadap dirinya mulai dilakukan.  Ia sendiri pernah nyaris terbunuh oleh penembak jitu Jerman.



Vassili Zaitsev dengan Senjata Andalannya

Di film Enemy at the Gates, difiksionalisasi bahwa ia berduel mati-matian dengan ahli penembak jitu Jerman yang bernama Mayor Erwin Konig. Mayor Konig ini digambarkan sebagai seorang penembak jitu tua yang berpengalaman, dan bahkan ditugasi untuk mengawasi sekolah sniper di Berlin. Mayor Konig sengaja dipanggil dari sekolah yang dikepalainya, untuk datang ke Rusia dan memburu Zaitsev. Cerita ini sempat simpang siur kebenarannya, kendati ada catatan yang menyebutkan bahwa Zaitsev pernah hampir ditembak juga oleh seseorang bernama Konig, kendati akhirnya ia bisa berbalik menang dengan bantuan temannya.

Tidak seperti Basilone, Zaitsev mengakhiri hidupnya dengan relatif tenang di Rusia, pada tahun 1991. Hingga kini senapannya masih tersimpan rapi di dalam museum militer di Moskow. Kemampuan Zaitsev dalam menembak jitu kerap dibandingkan dengan Simo Hayha, penembak jitu dari Finlandia. Kendati tidak pernah bertemu di medan perang yang sama, namun beberapa sejarawan mengklaim bahwa secara data statistik, Hayha masih lebih unggul daripada Zaitsev!! Kisah mengenai Simo Hayha juga ada di post ini..Jadi tenang aja, hehe.



3. Hans - Ulrich Rudel : Penghancur 2.000 Kendaraan Militer Sekutu

Bukan Jerman namanya kalau tidak punya pahlawan perang yang patut dibanggakan. Yang satu ini hadir dari Angkatan Udara Jerman (Luftwaffe), bernama Hans-Ulrich Rudel. Ia adalah penerbang pesawat pembom Jerman yang legendaris, Stuka.  Rudel bergabung bersama Luftwaffe pada tahun 1936, dan pada tahun 1941 ia mendapat misi tempur pertamanya, dengan pangkat Letnan. Atas jasanya hingga perang berakhir tahun 1945, ia mendapatkan satu-satunya medali Knight Cross dengan daun Oak emas. Apa prestasi yang membuat orang ini begitu diagungkan sehingga layak mendapatkan satu-satunya penghargaan yang tidak pernah diterima oleh tentara Jerman yang lain?



Hans-Ulrich Rudel

Well, percaya atau tidak, selama 4 tahun ia telah ikut dalam 2.530 misi penerbangan. Hasil yang diperolehnya adalah, ia mampu mengahancurkan : 800 kendaraan berupa Jip, Truk Angkut dan mobil militer lainnya,  519 Tank, Sebuah Kapal Penghancur, 2 Kapal penjelajah, Sebuah Kapal Induk Rusia, 70 Landasan, 4 Kereta Berpelindung Baja, Beberapa Jembatan, dan 9 Buah Pesawat yang ia tembak jatuh! Ditotal dengan kendaraan kecil lainnya, beberapa sumber mengklaim bahwa ia telah menghancurkan lebih dari 2.000 kendaraan militer sekutu.

Pada tanggal 13 Maret 1944, ia pernah mengalami pertempuran udara dengan pilot legendaris Rusia, yang tidak hanya sekali dianggap sebagai pahlawan besar negara tersebut. Pilot sepanjang masa Rusia (secara statistik) tersebut bernama Lev Shestakov. Dan tebak siapa yang akhirnya menang? Ya, Rudel menembak jatuh sang pahlawan Rusia hingga menyebabkan kekacauan dan kepanikan luar biasa di tengah pasukan angkatan udara Rusia.

Rudel pernah tertembak jatuh di awal tahun 1945, hingga menyebabkan kakinya harus diamputasi. Setelah operasi amputasi, ia masih sanggup menerbangkan pesawatnya hingga menghancurkan 26 Tank lagi.
Setelah Jerman kalah pada bulan Mei 1945, ia terbang ke Amerika untuk menyerahkan diri. Pada tahun 1948 ia dibebaskan dan tinggal di Argentina. Hans-Ulrich Rudel meninggal pada tanggal 18 Desember 1982 di Jerman.



4. Simo Hayha : Pembunuh Massal Penyebar Teror di Hutan Salju

Apabila di atas sudah dituliskan kisah heroik dari penembak jitu bernama Vassili Zaitsev di Rusia, Finlandia memiliki tandingan penembak jitu bernama Simo Hayha. 

Rusia menginvasi Finlandia di pertengahan tahun 1939. Karena hampir keseluruhan perang mempertahankan Finlandia berlangsung di hutan, maka Hayha memilih untuk bersembunyi di atas pohon setinggi 6 kaki, di tengah salju sedingin 20-40 derajat di bawah Celcius. Di titik itulah ia dengan jitu menghabisi nyawa serdadu Tentara Merah. Pada awalnya puluhan, dan terus naik menjadi ratusan.
Pasukan Rusia menjulukinya "White Death" karena ia menggunakan baju pelindung warna putih untuk berkamuflase dengan salju. Beberapa kali Rusia mengirimkan pasukan perintis ke hutan tempat Hayha bersembunyi, namun semuanya berhasil disapu habis olehnya. Pasukan penembak jitu yang dikirm oleh Rusia (minus Vassili Zaitsev, karena waktu itu Zaitsev belum tergabung dalam satuan penembak jitu Rusia) dikirim juga, dan kembali berakhir dengan kematian semuanya di tangan Hayha.



Simo Hayha, The White Death

Selama 100 hari bersembunyi di hutan dengan berkamuflase di tengah suhu sangat dingin, Hayha terhitung berhasil mengeliminasi 542 prajurit Rusia dengan senapan laras panjangnya. Itu belum ditambah dengan jumlah yang ia tembak dengan senapan otomatisnya. yang ditaksir mencapai sekitar 150 orang!!

Komando militer Rusia yang sangat terganggu dengan aksinya, memutuskan untuk membombardir hutan tempat Hayha bersembunyi. Dengan bantuan artileri udara dan darat, hutan itu benar-benar habis dibombardir. Tapi memang beruntung dan luar biasa, Simo Hayha berhasil selamat dari bombardemen tersebut.

Akhirnya, tidak seorang Rusiapun berani masuk ke hutan tersebut, tanpa misi tertentu. Mereka takut akan cerita Simo Hayha dan White Death. Namun seiring berjalannya waktu dan banyaknya pasukan yang dikirim untuk membunuh Hayha, akhirnya ada juga sebuah peluru yang mengenainya. Naasnya, peluru ini bukan peluru biasa melainkan peluru berpeledak. Peluru itu mengenai rahangnya, merobek pipi sebelah kirinya, dan menghancurkan wajah kirinya. 
Akhir untuk White Death? Ya untuk di Perang Dunia II, tapi tidak untuk hidupnya. Setelah menjalani perawatan, Hayha berhasil selamat beberapa tahun kemudian. Sayang ia tidak sempat menghadapi pertarungan dengan Vassili Zaitsev, sniper Rusia yang disebut-sebut tidak kalah jitu dalam menghabisi musuh. Hayha muncul di saat Zaitsev belum terdaftar di pasukan Infanteri, dan Heyha mengalami koma di saat Zaitsev tengah mencapai masa gemilangnya...


5. Lacchiman Gurung : Tangan Kiri Membantai 31 Orang Jepang




Lacchiman Gurung adalah orang Nepal yang tergabung di dalam pasukan Inggris dan Persemakmuran, dan dikirim ke medan perang Pasifik. Tidak banyak sejarah yang bisa didapat mengenai orang ini, baik mengenai karir kemiliteran maupun riwayat hidup yang mendetail.
Tapi, alesan gw bikin post ini adalah untuk menunjukkan sesuatu yang lebih heroik daripada Rambo, sesuatu yang lebih brutal daripada Rambo, dan seseorang yang terluka lebih banyak daripada Rambo. Jadi, tanpa banyak riwayat dan kesejarahan embel-embel yang lain, Gurung sesuai dengan kriteria penulisan gw.

Gurung diterjunkan di Myanmar, tempat ia dan kompinya berserta peletonnya (kelompok terkecil dalam kemiliteran, di bawah kompi) harus bertahan dari serangan Jepang. Saat jumlah orang di kompinya tinggal menyusut hingga jumlah belasan, sekitar 200 serdadu Jepang masih mengepungnya. Dua kali granat tangan dilemparkan kepadanya, namun dua kali pula granat itu ia lempar balik ke arah musuhnya. Kali ketiga granat datang, ia mengambilnya dan kembali hendak melempar balik. Namun sayangnya, granat terlanjur meledak di genggaman tangan kanannya, menyebabkan jari-jari tangannya hancur, dan lengan kanannya tidak bisa digunakan. Serpihan granat juga menyebabkan kakiknya terluka dan tidak bisa berlari, tubuh bagian kanannya luka parah, dan wajahnya juga. Bahkan penglihatannya yang kanan menjadi tidak bisa digunakan. 2 Kawan disampingnya juga terluka parah dan tidak bisa kembali bertempur.

Gurung tetap berusaha melanjutkan posisi bertahannya dengan hanya menggunakan lengan kirinya saja. Dengan kondisi tubuh sebelah kanan yang semuanya nyaris cacat dan lumpuh, ia mempertahankan diri dari serangan Jepang. Selama 4 Jam ia berhasil bertahan, hingga datang pasukan bantuan. Di sekitar lubang perlindungan Gurung, ditemukan 31 mayat serdadu Jepang yang terkena tembakan dari lengan kirinya. 
Segera setelah itu, Gurung ditarik kembali untuk mendapat pengobatan. Dengan mata buta dan tangan kanan hilang, Gurung masih memaksa untuk ikut diturunkan di medan peran Pasifik. Atas jasa dan keberaniannya, tahun 1945 ia menerima medali Victory Cross. Ia selamat dari keseluruhan peperangan dengan luka yang sangat parah, dan pulang kembali ke Nepal pada tahun 1947.


*Setelah baca post ini, masih terpikir untuk memasukkan Rambo ke dalam daftar 5 besar gw? Hehehehehe....semoga tidak! 

Monday, September 28, 2009

Begini Kisah yang Mengharukan Itu Terjadi

"Bokong Mahasiswa UI Tertembak di Stasiun Tebet"

Headline di salah satu situs penyedia berita nasional itu berasa begitu 'ngena' buat gw, dan membuat gw ngerasa sedikit jadi naik daun (yah, walaupun kata 'bokong' itu kok agak geli-geli gimanaaa gitu). Semenjak berita itu terbit, terhitung sudah ada sekitar 2.589.769 post kata-kata simpati yang masuk ke account Facebook gw. (percaya atau nggak itu terserah Anda. Gw sih nggak percaya..)
Bagi yang belum baca beritanya dan ( KALI ) aja penasaran, bisa diliat di sini

Naah, mungkin ada sebagian dari Anda yang merasa 'tertantang' dan 'tergelitik', kemudian bertanya-tanya : "cerita itu bener ga sih??" ,
atau "Lah? Kok bisa gitu??",
daaan....sukur-sukur ada yang bilang "Aduuuh, kasian ya si Indra itu..." (Oke, ini namanya ngarep)

Hmmmmmm, bisa dibilang post ini berisi mengenai curhat gw dan sekaligus klarifikasi dari berita -yang separuh benar-seperempat salah-seperempat mungkin benar mungkin salah- itu...
Ini mungkin juga bisa dikategorikan sebagai sisi narsis, mungkin ada juga sisi heroiknya, dan mungkin (baca : pasti ) banyak sisi ga pentingnya. Jadi....menjadi resiko Anda untuk menarik mouse scroll hingga terus ke bawah! Hehehe

*Foto menyusul ya, males mindahinnya...

1. Awal Berangkat Kuliah
Senin pertama, hari pertama kuliah setelah Lebaran.. Pagi yang indah, namun gw diganggu oleh jadwal kuliah nanggung, yaitu jam 11 siang. Gw berangkat dari rumah pukul 10 kurang 15, tanpa prasangka buruk apa-apa akan sesuatu yang akan menimpa gw hari itu.
Naik motor sehari-hari (silahkan sapa saya apabila menemukan orang yang meluncur di atas motor Suzuki Thunder warna silver, bernopol B 6166 KJU...InsyaAllah itu gw kok), gw berencana untuk berangkat ke Tebet hari itu. Udah biasa bagi gw dan mungkin jutaan pengendara motor yang ingin ke Depok dan Bogor lainnya, yang pergi ke stasiun tebet untuk menitipkan motornya di sana dan berangkat dengan Kereta Api. Proses cepat, kilat, murah, dan praktis (kaya iklan apa gitu...)

Sayang seribu sayang...gw mengalami kecelakaan di tengah jalan. Kebetulan gw melintasi sebuah proyek yang dinamakan "Banjir Kanal Timur". Entah, dari namanya sih itu kayanya semacem.....Kanal di daerah (Jakarta) Timur, untuk menanggulangi Banjir, bener ga tuh?
Yah pokonya gitulah. Pokoknya jalanan di daerah situ berpasir dan berdebu karena proyek itu. Entah gw mengkhayal, atau emang ada taksi yang tiba-tiba motong dari kiri ke jalur kanan (jalur cepat) dan tiba-tiba ngerem seenaknya, gwpun terpaksa membejek (tau arti 'bejek' kan?) rem motor gw (yang berjalan dengan kecepatan sedang 60an Km/Jam) dengan spontan. Daaaan....berhubung itu jalan berpasir dan kerikil, maka slip-lah ban gw, dan menyebabkan gw terpelanting di tengah-tengah jalan, dengan kondisi badan ketiban motor hingga terseret sekitar 2 meter. Untungnya gw pengendara motor yang baik, dengan kelengkapan peralatan keamanan yang mumpuni (asiiiik).

Gw ga luka parah, kendati si manis berwarna silver ( baca : motor gw) mengalami kerusakan cukup hebat. Setang bengkok parah, footstep hancur, dop lampu depan setengah pecah, persneling tersangkut, dll. Lebih dari itu, badan gw baik-baik saja... Ya emang ada luka-luka di tangan, kaki, dan hancurnya barang-barang yang gw pake dan kantongi sih. Tapi, gw selamat!! Waw...

Habis waktu sekitar 45 menit untuk mencari air guna membersihkan luka, dan sedikit duduk untuk melenyapkan deg-deg an. Dengan mengerahkan segenap tenaga dan nyali, gw memutuskan : Lanjut ke kampus, Yeahhh!! (padahal niat gw ini udah ditentang oleh seorang sahabat yang pertamakali gw kabari). Dengan stang miring-miring dan motor ribet, gw lanjut jalan ke stasiun Tebet.
Tebet...tempat terjadinya peristiwa itu...
(di sini mulai serius dan misterius)


2. Dor!! Dan Si Abang Terjatuh dengan Berlumur Darah...
Sekitar pukul 11.25 gw sampai di Stasiun Tebet, dan parkir di tempat langganan. Tempat parkir ini modelnya numpang di sebuah rumah dengan pelataran yang luas, dan dijaga oleh beberapa tukang parkir di situ. Oke, kita panggil sang empunya rumah ini dengan nama 'Mawar' (lagi-lagi). Alkisah, si 'Mawar' ini punya seorang adik bungsu yang diduga mengidap gangguan jiwa, atau istilah kerennya : Setress yang suka kumat.
Sekarang kita panggil si bungsu ini (yang nantinya menjadi tersangka) dengan nama 'Melati'. Gangguan jiwa pada Melati ini relatif tidak pernah dibahas oleh pihak keluarga, karena sang Ibu dan si Mawar mengidap penyakit jantung. Jadi otomatis, Melati dibiarkan tinggal di situ (bukan di Er Es Je) dan dianggap tidak bermasalah, hanya kadang suka kumat. Daaaaaan, si Melati ini punya dua teman dekat, yaitu Senapan Angin Laras Panjang (entah apa merk dan modelnya), plus sebuah senjata genggam gas bermodel Baretta buatan Amerika yang ditebusnya dengan harga 3.5 juta rupiah.

Oke oke oke, cukup dengan duo Mawar - Melati ini. Mari kembalikan gw sebagai topik utama cerita ini! Hehehehe.
Sesampai dan separkirnya gw di Tebet, gw disapa oleh PAK HAMID, seorang juru parkir yang sudah seringkali bertatap dan berbincang dengan gw. Pak Hamid ini melihat luka di tangan gw dan berinisiatif menolong, dengan menawarkan....penyiraman alkohol, dan pemberian Bet*dine (sensor dikitlah biar ga dikira iklan). Saat tangan gw sedang dituang alkohol, otomatis gw agak berjengat karena ngilu yang mendadak itu. Di saat menikmati 'jengatan sensual' itu, tiba-tiba terdengar ada bunyai "DOR!!", dan diiringi dengan rasa nyeri yang mendadak di pinggul gw. Posisi tepatnya ada di bagian pinggul agak ke bawah sedikit, kendati belum mencapai bokong.

Jadi....klarifikasi pertama : Peluru tidak mengenai bokong gw, melainkan tulang duduk gw!!.
Oke, karena jengatan alkohol dan nyeri mendadak akibat ditembak itu, kontan gw teriak "An*ir!!!". Gw menoleh ke belakang, dan tampaklah dia.....sesosok pria berwajah segar (sayur kali), tampang tidak berdosa, dan memegang sepucuk senapan angin yang baru dikokang...jaraknya kurang lebih 3 meter dari tempat gw berdiri. Itu Dia. Itu Melati. Hanya sedetik, dan si Melati masuk kembali ke balik pintu. Sempat meluap emosi untuk menghardik dengan bahasa binatang, sebelum Pak Hamid bilang..."Udah, orang itu emang agak stress. Biarin aja".

Sembari mengusap pinggul gw dan meraba sesuatu (yang kemudian gw ketahui sebagai peluru), gw menenangkan diri....dan meredam emosi yang sempat mau membuncah. Menyadari, itu tindakan di luar sadar dan sengaja dari akal sehat. Dengan agak terpincang karena pinggul nyeri, gw melanjutkan pengobatan.
Menyoal luka gw, pada berita resmi yang gw cantumkan di atas, tertulis bahwa gw berdarah-darah dan segera dilarikan ke RSCM. Well, itu lebay!! Haha. lagi-lagi pria beruntung ini selamat dari luka parah. Kebetulan hari itu gw memakai celana 3 lapis. Celana dalam motif polka dot (wuw), celana pendek olahraga, dan celana jeans. Untungnya 3 lapisan itu mampu menyerap daya tembak si peluru. Setelah belakangan gw menjalami visum, diketahui bahwa celana terluar gw (jeans), sobek dan bolong akibat peluru tersebut, namun masih membal di lapisan ke dua dan ketiga, yang persis jatuh pada bagian karet celana. Jadi peluru hanya mengahantam kulit secara tidak langsung, dan menyebabkan luka kecil dan sedikit berdarah Klarifikasi kedua : BUKAN BERDARAH-DARAH, DAN TIDAK DILARIKAN KE RSCM

Lanjut...
Eh, baru tenang dikit....selang beberapa detik kemudian, ada lagi suara "DOR!!"
Kali ini giliran Pak Hamid yang mengerang. Gw langsung melihat darah yang mengalir dari betis kanannya. Segera setelah itu, Pak Hamid sang penolong gw tiba-tiba terjatuh tertelungkup sambil mengerang sakit dan memegangi betisnya.....yang.....tertembus.....peluru.....hingga.....ke dalamnya....dan....berdarah-darah....parah....ah....

Hanya sekilas menghafalkan wajah Melati untuk yang kedua kalinya, gw langsung fokus untuk menolong Pak Hamid. Beliau langsung diantar ke RSCM, sementara gw yang hanya mengalami luka-luka kecil dan pincang 10 menit, memutuskan untuk melapor ke polisi. Pada awalnya gw hendak melapor hanya sebagai saksi mata, dan tidak ingin dianggap sebagai korban. Toh luka gw ga seberapa, dan gw juga ga dendam sama tuh orang. Tapi oleh polisi yang kebetulan berada di pos terdekat, gw disarankan mengadu sebagai korban juga.

Mungkin ada yang bertanya-tanya : "Ih, kenapa harus lo sih yang sok heroik dan ngadu-ngadu ke polisi" (dengan nada nyolot dan gaul)
Betul juga....kenapa harus gw? Sementara banyak tukang parkir lain yang juga melihat kejadian tersebut dengan jelas.

Pertimbangan utama gw adalah....Pak Hamid dan kolega sesama tukang parkir menumpang cari nafkah di pelataran rumah itu. Pantaskah gw membiarkan mereka menerima resiko untuk kehilangan pekerjaan, sementara gw sendiri dalam kondisi yang memungkinkan untuk melapor? Toh gw di situ hanya tamu yang menitip. Cuma sekedar lewat beberapa jam saja, dan ga nyari nafkah di situ. Apabila ada keberatan, maka gw ga parkir di situ lagi pun bukan masalah besar. Lain dengan mereka yang bisa terancam kehilangan pekerjaan. Oleh karena itu, bukannya sok heroik, tapi gw ga mau ngerepotin orang situ yang udah banyak ngebantu gw. Itu aja

Setelah melapor, 5 polisi datang dan menggerebek rumah itu. Dan mereka segera menciduk Tuan Melati...


3.Polsek, Visum, Bokong, Laporan, Helm Ilang
Setelah Melati diciduk, gw diharuskan ikut untuk memberi keterangan di Polsek Tebet (di jalan Dr. Saharjo, deket balai Sudirman). Alhasil, gw bawa motor dengan susah-payah kesana. Dan karena gw ga menemukan parkir kosong di area dalam, maka parkirlah motor gw di depan gerbang polsek. Di situ duduk seorang tukang parkir. Dan gw masuk ke Polsek, setelah titip pesan kepada tukang parkir "Pak, titip helm yaa". Dan dia mengiyakan dengan pasti dan mantap.

Oke, di sana gw diinterogasi, ditanya-tanyain, terus ditanyain lagi, terus ditanyain lagi, dan terus ditanyain lagi. Intinya, gw ditanyain terus setiap kali ada polisi yang baru masuk ke ruang interogasi gw. Dan setiap begitu, gw harus ngulang lagi ceritanya, ngulang lagi ceritanya, ngulang lagi ceritanya, terus sampe gw kecapean sendiri.
Jam 2, gw diberangkatkan ke RSCM untuk melakukan visum, demi mendapatkan bukti otentik luka gw. Disitulah gw mengalami hal yang mirip tapi sama sekali bukan pelecehan seksual.. Di ruang visum yang dipenuhi cukup banyak orang, baju gw harus berkali-kali diangkat, dengan celana agak dipelorotin ke bawah hingga terlihat secuil buah-buah ranum di balik celana belakang gw!! Whew!! Untung gw buang muka ke arah lain supaya ga ada yang liat muka gw...

Di ruang yang sama, gw kembali bertemu Pak Hamid yang sudah lebih dahulu dilarikan ke RSCM. Melihat hasil Rontgen nya, gw agak ngeri. Peluru menembus dari betis belakang hingga tersangkut di tulang kering. Dan peluru yang menyangkut, sama seperti yang mengenai gw. Peluru timah kecil, tajam seperti mata bor, dan kerapkali disebut 'mimis' (entah, polisinya bilang gitu...ga tau kalo gw salah ngeja). Ga kebayang seandainya peluru yang kena gw itu naik setengah sentiiiiii aja. Pasti kena bagian pinggul ke atas yang ga tertutup celana dan cuma kemeja doang. Dan itu pasti akan tembus juga.....malah bisa jadi tembusannya itu ke sekitar perut. Jadi lagi-lagi, dalam kesialan gw menemukan keberuntungan!! Yeah!!

Oke, itu cuma luka karena pistol dan senapan angin, bukan senjata api betulan. Tapi tetep aja, kebayang ga gimana rasanya dihajar peluru timah (kendati bukan proyektil asli) dari jarak 3 meter dengan senapan angin. Orang main Air Soft aja ada aturan 5 meter minimal. Itu juga harus pake gear lengkap, dll. Lha kalo cuma modal kaos atau malah langsung kena kulit?? Ga ada ampun, itu pasti langsung tembus!!

Balik ke topik..
Selesai visum jam 4 an, gw balik ke Polsek lagi untuk bikin laporan. Selesai akhirnya jam 7. Gw pikir, gw udah merdeka.. Gw turun ke tempat gw parkir motor, dan mendapati helm gw udah lenyap tak berbekas, tak berjejak...raib begitu saja.
Di dalam helm itu juga gw masukkin jaket motor gw yang udah setia menemani gw semenjak Akil baliqh (oke, lebay sih...)
Dengan perasaan dongkol dan merasa ini adalah hari paling apes selama 21 tahun hidup (kecelakaan motor, motor berantakan, ditembak orang, bikin laporan, helm ilang), gw duduk di dekat motor gw sembari menyalakan satu batang rokok yang tersisa di bungkus rokok gw. Beristirahat dan menenangkan diri sebelum menempuh perjalanan pulang dengan motor rusak.
Phew, what a day!!

Yah...kebayangkan kan gimana berita resmi yang ada di lnik atas itu terlalu lebay. Gw ga berdarah-darh sampe segitunya. Luka kecil iya, tapi ga sampe membuat gw langsung dilarikan ke RSCM. Gw ke RSCM murni hanya untuk tujuan visum guna mendapat bukti, bukan perawatan serius. Selain itu, penekanan gw adalah...ITU BUKAN PANTAT ATAU BOKONG!!! ITU PINGGUL (turunan dikit) !!!
Demikian catatan ini dibuat..untuk menjelaskan keadaan yang sebenar-benarnya terjadi saat itu. Terima Kasih, dan tetap baca blog gw!!

Monday, September 14, 2009

Sekarang Giliranmu Nak!!

Indra Pradana
0606095084
Mahasiswa Ilmu Politik FISIP UI 2006

.....

Sedang menggarap Outline Bab I Skripsi

.....

Jiah, gaya banget ya?? Hehe.. Sekarang ini gw lagi disibukkan dengan mata kuliah bernama 'Seminar dan Pilihan Masalah'. Mata kuliah dengan bobot 4 sks, dan ajib-nya....inilah mata kuliah pengantar calon skripsi gw! (Ngomongin skripsi, tiba-tiba jadi merasa tua...)

Tapi tenang, walaupun judulnya " Indra 'Dandy' Pradana sedang memulai tahapan awal skripsinya", bukan berarti skripsinya akan selesai dalam masa-masa dekat ini kok. Perjalanan panjang itu masih akan bertambah panjang lagi.

Di antara temen-temen angkatan gw, kata "skripsi" sendiri kadang udah jadi tabu. Seandainya ada yang ngomong : "Gimana tema skripsi lo?", pasti di kejauhan akan ada yang sayup-sayup menimpali : "Anjir, jangan ngomong jorok di sini!!". Ya, sampe segitunya...skripsi dianggep jadi hal yang 'jorok' dan memacu sensitivitas tingkat tinggi dari teman-teman sendiri.


Itu baru soal pertanyaan tentang 'gimana kesiapan skripsi'. Seandainyapun ada kawan yang udah mengklaim "Eh, tema skripsi gw udah beres nih! Udah mulai garap bagian isi juga, tinggal dikit lagi kelar!!", dipastikan si manusia ceroboh tersebut akan kena full bogem mentah dari anak-anak seangkatan, sejurusan, mungkin sefakultas!

Lagi-lagi...sensitivitas tingkat tinggi bung

Rupanya ini yang dirasain sama senior-senior gw di masa lalu. Makhluk-makhluk yang dulu sering gw anggep sesepuh ilmu politik. Yang sering gw julukin "Senior muka berkerut" gara-gara jumlah kerutan dahi yang terus bertambah seiring bertmbahnya pula masa kuliah. Ya, sekarang giliran gw yang mengemban julukan itu dari 'adik-adik kelas yang manis'.

Gw masih inget perbincangan gw dengan senior gw anak angkatan 2005 (kali ini, kita samarkan dengan nama 'Anggrek'). Nah, si Anggrek ini notabene anak jurusan gw juga (Bagi yang lupa apa jurusan gw, silahkan liat lagi paragraf pertama post ini, atau liat di profil gw. Bagi yang malas untuk scroll mouse lagi ke atas, gw ingetin lagi kalo jurusan gw Ilmu Politik!). Perbincangan singkat ini dilakukan kira-kira sekitar 8 bulan yang lalu, di kantin fakultas gw. Begini ceritanya :

Gw : Eh cuy, tema skripsi lo apa? (bermaksud mencari info soal tema dan judul skripsi politiknya)
Kak Anggrek : (menyendok dan mengunyah nasi, lalu menjawab dengan santai) ...Politik...
Gw : .....
Kak Anggrek : (kembali menyeruput sisa Soto Ayam-nya, seakan tidak ada masalah pada jawabannya tadi)

Ingin rasanya menjejali mulut si Kakak Senior dengan sendok sotonya (Hehehe, ampun ya Kak)
Habis gimana ga emosi? Ditanya serius, niatnya cari referensi seandainya gw garap skripsi juga...kok jawabannya rese gitu?? Yaiyalah gw tau tema-nya pasti 'Politik', tapi ya mbok dispesifikasi gitu lho...politik mana? Soal masalah apa? Tahun berapa? Deskriptif atau analitis?
ckckckckckckck

8 bulan yang lalu, gw tercekik mendengar jawaban itu. Gw gatel denger tema yang sagat general itu.

Tapi...itu semua berubah sekitar sebulan yang alu. Berubah seketika saat gw yang harus berada di posisi Kak Anggrek.
Soal tema? Gw berniat untuk membahas Revolusi Bolivarian yang terjadi di Venezeula. Pas dikasih pertanyaan pertama sama dosen gw soal : apa masalah utama yang pingin gw angkat?
Gw terdiam, membisu, tercekat, ga bisa berkata-kata.
Apa masalahnya?? Masalahnya adalah.....gw ga tau apa masalahnya!! Niat gw cuma ngebahas soal proses revolusi itu, disertai dengan seuprit analisa. Tapi ga ada masalah yang bisa gw angkat. Pingin rasanya gw jawab, masalah utama gw adalah : POLITIK!! (yah, ini sebenernya jawaban Kak Anggrek sih).
Gw hanya bisa berharap semoga kisah gw ini tahun depan ga diangkat di blog junior gw, dan tiba-tiba gw disebut sebagai Kak Teratai

Saudara-saudari.....gw sedang bingung!! Gw bingung sama topik skripsi gw yang ternyata ga bermasalah. Kalo bisa cari masalah, gw mau deh...bah!
Bahkan hanya untuk ngebahas Outline yang hanya cuma kerangka awalpun, gw gak gape buat bikin ini!!
Semua tugas gw terbengkalai demi momok yang satu ini. Nafsu makan gw jadi berkurang (ehm...sebenernya ga juga sih). Gw harus fokus ke diri gw sendiri, sehingga ga berminat dulu untuk cari cewe (ehm...sebenernya emang ga laku sih). Ya Tuhan, gw butuh doa dan restu dari pembaca sekalian untuk menyelesaikan skripsi gw. Gw ga pingin jadi Kak Teratai!!

Friday, September 11, 2009

Foolicious

I'm overjoy, so fucking careless
Keep dreaming, but never awake
It's not havoc, neither disaster
It's just called 'a very dumb idea of being together'

Now I'm trapped in this agony
All because my fault, all because my thought
My punishment? Maybe yes and maybe not
End of the heartache? No, it's just the beginning





The Used's Album Cover : In Love and Death


*Tulisan yang mungkin ga penting buat pembaca lain, tapi menjadi penting buat gw sebagai bahan introspeksi